The Journey of a Wise Man: A Fable for English Learners (Bilingual)

1 Dahulu kala, hiduplah seorang pria bijaksana yang tinggal di sebuah negeri di gunung. Negeri tersebut merupakan negeri yang indah. Tetapi selalu sulit untuk mendapatkan makanan yang cukup.
1 A long time ago, there was a wise man living in a mountain country. The country was beautiful. But it was always difficult to find enough food.

2 Penduduk di Negeri Tinggi memutuskan bahwa mereka akan pergi bersama-sama ke Negeri Rendah. Ketika salju mulai mencair, mereka mengemas semua barang yang mereka miliki ke dalam kereta-kereta mereka. Dengan perasaan was-was bercampur sedih, pria bijaksana dan tetangga-tetangganya meninggalkan rumah-rumah mereka yang ada di Negeri Tinggi.

2 The people of the High Country decided that they would travel together to the Low Country. When the snow began to melt, they packed all they owned into their wagons. With anticipation mixed with sadness, the wise man and his neighbors left their High Country homes.

3 Pria bijaksana melihat ada sesuatu yang aneh yang akan segera terjadi setelah mereka memulai perjalanan mereka. Ketika mereka berpergian hari demi demi, tangan kanannya mulai terasa kaku. Semakin mereka pergi menjauh dari Negeri Tinggi, tangannya menjadi semakin lemah. Ada tiga hal yang membuat dia bingung. Pertama, tangannya selalu terasa paling lemah ketika mereka berhenti di sebuah desa. Kedua, dia mengamati bahwa tangannya menjadi kuat kembali ketika para pelancong dari Negeri Tinggi berkumpul di sekitar perapian pada malam hari untuk bercakap-cakap satu sama lain.

3 The wise man noticed something strange taking place soon after they began their journey. As they traveled day after day, his right arm began to feel stiff. The further they traveled from the High Country, the weaker it became. Three things puzzled him. First, his arm always felt the weakest whenever they stopped in a village. Secondly, he noticed that when the travelers from the High Country gathered around a fire at night to talk among themselves, his arm became strong again.

4 Perjalanan ketiganya paling membuatnya bingung. Ketika dia meletakkan tangannya di belakang punggungnya, tangannya tidak terasa kaku dan lunglai.

4 His third discovery puzzled him the most. When he put his arm behind his back, it no longer felt stiff and useless.

5 Suatu hari pria bijaksana tersebut terkejut. Ketika keretanya mengelilingi tikungan di sebuah jalan gunung tinggi, dia melihat ke bawah ke arah kereta tetangganya yang berada di depan dia. Dia menyadari bahwa banyak orang juga manaruh tangannya di belakang punggung mereka. Ketika dia melihat lebih dekat, dia melihat bahkan beberapa orang yang lebih tua sudah mengikat tangan mereka di tempat dengan sebuah tali.

5 One day the wise man was startled. As his wagon rounded a bend in a high mountain road, he looked down on his neighbors' wagons ahead of him. He realized that many others were also holding an arm behind their back. As he looked more closely, he saw that some older people had even tied their arm in place with a rope.

6 Dia heran, mengapa ini terjadi?

6 Why, he wondered, was this happening?

7 Akhirnya tibalah mereka di Negeri Rendah. Cuacanya hangat. Ladang-ladang akan meghasilkan biji-bijian dan hutan-hutan menyediakan kayu untuk rumah-rumah mereka. Hidup kelihatannya menjanjikan. Menjanjikan, memang, Kecuali untuk tangan-tangan lemah mereka. Ada rumor yang mengatakan bahwa udara di Negeri Rendah menyebabkan kelemahan aneh ini. Beberapa orang bahkan mengatakan mereka harus belajar untuk hidup dengan kekurangan ini jika mereka ingin tinggal di Negeri Rendah.

7 At last they reached the Low Country. The weather was warm. The fields would produce grain and the forests would supply lumber for their houses. Life looked promising. Promising, that is, except for their weak arms. It was rumored that the Low Country's air caused this strange weakness. Some of the people even said they must learn to live with this weakness if they wanted to stay in the Low Country.

8 Orang-orang dewasa dan anak-anak siap untuk bekerja. Mereka membersihkan lahan, menanam tanaman-tanaman pangan, dan menyiapkan kayu untuk membangun rumah-rumah baru mereka. Seorang tukang jahit di Negeri Tinggi menjahit sebuah jenis baju baru yang akan menyokong tangan mereka yang tidak berguna di tempatnya. Dia juga meletakkan bulu di atas mantel sehingga pundak bisa menahan beban berat. Walaupun dengan adanya mantel baru tersebut, pekerjaan masih lamban karena setiap orang hanya menggunakan satu tangan.

8 The adults and children set to work. They cleared the land, planted crops, and prepared lumber to build their new homes. A High Country tailor sewed a new kind of coat that would hold the useless arm in place. He also put leather on the coat so the shoulder could push heavy loads. Even with the new coat, however, work was slow because everyone used only one arm.

9 Sekali lagi, pria bijaksana melihat ada hal yang aneh. Pertama, dia mengamati bahwa bahkan hal tersebut menyebabkan mereka sakit, anak-anak segera mulai menggunakan tangan mereka lagi. Kedua, pria bijaksana mengamati bahwa kapanpun penduduk Negeri Tinggi berkumpul bersama di dalam gedung-gedung pertemuan mereka, kekuatan tangan mereka akan kembali bahkan wanita dan pria tertua sekalipun jika mereka menutup semua pintu dan jendela. "Sudah pasti" kata kebanyakan orang, "ini membuktikan bahwa udara Negeri Rendah bermasalah." Kebanyakan orang setuju bahwa satu-satunya jalan keluar adalah dengan membangun rumah-rumah yang begitu kuat sehingga semua udara di Negeri Rendah dapat tertahan di luar. Tetapi pria bijaksana tersebut sangat bingung karena anak-anak tersebut kelihatannya menjadi semakin kuat ketika mereka bermain dan bekerja di luar udara Negeri Rendah.

9 Again, the wise man noticed a strange thing. First, he noticed that--even though it caused them pain--the children soon began using their weak arm again. Secondly, the wise man noticed that whenever the High Country people met together in their first buildings, if they shut all the doors and windows, strength returned to the arms of even the oldest men and women. "Surely," most said, "this proves that the Low Country air is at fault." Most agreed that the only solution was to build houses so strong that all Low Country air could be kept outside. But the wise man was puzzled most because the children seemed to become stronger while playing and working outside in the Low Country air.

10 Pria bijaksana tersebut melihat tetangga-tetangga Negeri Tinggi mencoba membangun rumah-rumah mereka hanya dengan menggunakan satu tangan. Dia menjadi takut akan kesejahteraan penduduknya. Mantel baru membantu mereka bekerja lebih cepat dengan satu tangan. Tetapi musim dingin datang dan baik rumah-rumah maupun panen-panen akan siap jika setiap orang melanjutkan bekerja dengan satu tangan di belakang punggung mereka.

10 The wise man watched his High Country neighbors trying to build their houses while using only one arm. He became fearful for his people's welfare. The new coat helped them work faster with one arm. But winter was coming and neither the houses nor the crops would be ready if everyone continued to work with one arm behind their back.

11 Orang bijaksana belajar dari anak-anak itu. Dia sadar bahwa walaupun hal tersebut menyakitkan, menggunakan tangannya untuk bekerja keras merupakan satu-satunya cara untuk membuatnya kuat lagi. Karena musim dingin datang, dia tahu bahwa dia tidak dapat berhenti mengerjakan rumahnya agar dapat menghabiskan seluruh waktunya untuk mencoba membuat tangannya kuat. Tetapi dia juga tahu bahwa dia dapat menyelesaikan rumahnya sebelum musim dingin kecuali jika dia menggunakan kedua tangannya. Pria bijaksana itu memutuskan bahwa jika dia mau menyelesaikan rumahnya sebelum musim dingin, dia harus menghabiskan waktu tiap hari untuk memperkuat tangannya sehingga dia bisa menyelesaikan rumahnya dengan lebih cepat.

11 The wise man learned a lesson from the children. He realized that--even though it was painful--using his weak arm for hard work was the only way to make it strong again. Because winter was coming, he knew that he could not stop working on his house in order to spend all his time trying to make his arm strong. But he also knew that he could not finish his house before winter unless he used both arms. The wise man decided that if he was to finish his house before winter, he must spend some time each day strengthening his arm so that he could finish his house more quickly.

12 Pria bijaksana itu menghabiskan waktu tiap hari dengan memperkuat tangannya dan mengerjakan rumahnya. Dia selesai membangun rumahnya sebelum musim gugur.

12 The wise man spent time each day both strengthening his arm and working on his house. He finished his house before winter.

13 Beberapa orang Negeri Tinggi menyalahkan musim dingin tersebut karena salju turun sebelum tanaman-tanaman mereka dipanen dan sebelum rumah-rumah mereka selesai dibangun. Mereka bekerja dengan lambat setiap hari karena mereka takut untuk berhenti mengerjakan rumah-rumah mereka yang cukup lama untuk memperkuat tangan mereka yang lemah.

13 Some High Country people perished that winter because the snow came before their crops were harvested and their houses finished. They had worked slowly every day because they were afraid to stop working on their houses long enough to strengthen their weak arm.

0 komentar:

Poskan Komentar